Kisah Sukses Peternak Ayam Potong | Mengintip Rahasia Sukses Pak Tujo

Kisah Sukses Peternak Ayam Potong - Usaha ternak ayam potong memang sangat menjanjikan. Sudah banyak orang yang sukses dalam menjalankan bisnis ini. Mengingat pasaran ayam potong sangat mudah karena merupakan kebutuhan pokok apalagi jika musim pesta banyak orang yang pesan. Walaupun seperti itu, tidak semudah yang kita bayangkan. kita harus tau cara mudah beternak ayam potong dan menghasilkan omset.

Image via Google

Agar kita tau bagaimana cara beternak ayam potong yang baik dan menghasilkan. Sebaiknya kita intip aja Kisah Sukses Pak Tujo Hadi Sumarto (Paidi) yang merambah dari pengumpul ayam menjadi pengusaha besar ayam potong yang sukses.

Dengan modal ketekunan, kejujuran, dan sikap hemat itulah Pak Tujo Hadi Sumarto yang sering disebut dengan nama kecilnya (Paidi) menyongsong masa depan bisnis ayam potongnya. Mewarisi bakat dagang dari ayahnya, mula-mula Paidi sekadar membantu menjual ayam potong milik ayahnya. Pada 1969, ia memulai bisnis sendiri sebagi pedagang ayam keliling. Berbekal sedikit uang dari ayahnya dan sebuah sepeda onthel dengan keranjang di belakangnya, ia keluar-masuk kampung mengumpulkan ayam dan menjualnya ke pasar-pasar di sekitar Wates, Nanggulan, Godean, Muntilan, hingga Jogjakarta. Untuk menjual 70 ekor ayam kampung hidup, Paidi harus menggenjot sepedanya kadang sampai 35 kilometer. Ia tak berkeluh kesar.

“Bagaimana lagi, saya harus menjalani pekerjaan itu dengan telaten. Mau melanjutkan sekolah, orang tua tidak mampu, jadi saya mengikuti jejak orang tua berjualan ayam,” tuturnya.
Genjotan onthel-nya mengalirkan rezeki. Dalam tempo 10 tahun, sepedanya bisa pensiun karena digantikan sebuah mobil Colt pikap. Jangkauan pemasarannya jelas membesar hingga ke pelosok desa di sekitar Jogjakarta. Jumlah ayam yang dijualnya meningkat hingga sekitar 500 ekor ayam kampung setiap hari.

Pada saat marak usaha peternakan ayam potong, ayah tiga orang itu memberanikan diri menjadi peternak ayam potong. Itu dilakukannya pada 1990. Dua tahun kemudian, seiring dengan makin sulitnya mencari ayam kampung, dagangannya dialihkan menjadi ayam negeri. Jogjakarta dianggapnya tak lagi cukup besar, maka luar daerah pun dibanjirinya dengan ayam potong yang disebar memakai truk sewaan. Hanya beberapa tahun ia menyewa, setelah itu Paidi memakai Colt L-300 pikap yang dibelinya sendiri.

Sekarag ini setiap hari, Paidi, bisa menjual 25 hingga 30 ton ayam potong ke Jakarta, Bogor, dan beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk menunjang usahanya, ia memiliki 20 truk besar dan Colt pikap, serta 10 buah sepeda motor. Tersedia pula gudang seluas 4.000 meter persegi dan tiga lokasi kandang dengan kapasitas sekitar 4.000 ekor ayam. Untuk melanyani pembeli di sekitar tempatnya itu.

Paidi sedikit mengungkapkan rahasia bisnisnya saat ditanya Bagaimana Rahasia membangun Bisnis Ayam Potong ini:
“Pada saat itu, kualitas harus menjadi modal utama kami, dan service kepada pelanggan menjadi sangat penting,” kata Paidi dengan gaya bicara yang tenang. Dan, ia beruntung sudah mengantongi modal hubungan baik yang selalu terpelihara dengan para pedagang dan peternak yang menjadi mitra kerjanya. “Saya berdagang selalu menggunakan ini (menunjuk ke dada). Jadi, bagi saya, pembeli, berapa pun dia membeli, saya perlakukan sama karena pembeli adalah raja. Selain itu, ramah-tamah tidak boleh ditinggalkan,” katanya sambil tersenyum. Sikap ramah-tamah dan bersahabat itu, tuturnya, penting untuk menjaga tali persaudaraan. Kalau sudah begitu, menurut dia, pelanggan akan sungkan lari ke tempat lain.
Uang yang berputar dalam bisnis ayam potong itu ditaksir rata-rata mencapai Rp. 200 juta per hari. Dari situlah ia bisa membeli keperluan seperti dua rumah besar yang bernilai Rp. 850 juta baru dibangun di atas tanah seluas 550 meter persegi. Mau ke mana-mana ia tinggal menstater tiga mobil menterengnya, dua buah Baby Benz dan satu buah BMW.

Cerita Paidi ini bukanlah kisah Cinderella. Keberhasilan pengusaha ini bisa ditiru siapa pun yang punya tekad sekuat Paidi. Hanya lulusan sekolah rakyat (setingkat sekolah dasar), lelaki ini membangun bata demi bata istananya dengan sikapnya yang menghalalkan kerja keras, tekun dan berhemat selama bertahun-tahun hingga saat ini sudah menjadi sukses menjadi peternak ayam potong.

Semoga dari cerita ini kita bisa terinspirasi dan menjadi sukses seperti Paidi. Salam sukses...!!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Enter Your Comment