Menyulap Kayu Bekas Menjadi Bisnis Omzet Ratusan Juta Rupiah

Inspirasi Bisnis - kali ini saya akan membahas tentang Bagaimana sebenarnya menyulap kayu bekas menjadi bisnis yang omzetnya ratusan juta rupiah. Seperti informasi yang saya kutip dari tulisan Mas Bambang Setyawan di kompasiana.com.

Menurut teori ekonomi, barang bekas pasti harga jualnya turun. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada para penggemar sekaligus pedagang kayu lawas. Puluhan tahun berdagang barang bekas, mereka mampu meraup puluhan juta hingga ratusan juta rupiah untuk sekali transaksi karena dalam bisnis ini tidak ada patokan harganya. Kebanyakan penggemar barang antik seperti ini membeli kepuasan tidak peduli berapapun harganya.
Joglo koleksi haji Iwan seharga Rp 100 juta (foto: bamset)
Mengutip pengalaman dari Bapak Iwan yang pernah membeli joglo ukuran 3 x 4 meter seharga Rp 20 juta, belum sempat dipasang di rumahnya, mendadak ada mantan pejabat yang berminat. Karena tidak sempat menikmati, dirinya pasang harga Rp 70 juta. Celakanya, pejabat tersebut mengiyakan tanpa menawarnya. Dikalkulasi, dalam hitungan jam, Iwan menikmati keuntungan bersih Rp 50 juta.

Kendati begitu, bukan berarti Iwan belum pernah mengalami hal yang mengecewakan. Di tahun 2014 lalu, ia membeli gazebo ukuran 2 X 2 meter seharga Rp 4 juta, kebetulan ada peminat yang mau membelinya. Gazebo tersebut dilepasnya seharga Rp 7,5 juta. “ Usai transaksi, saya lihat di internet, gazebo itu ditawarkan dengan harga Rp 20 juta dan langsung ada pembelinya,” tukasnya sembari tertawa.

Menurut Bapak Iwan yang ditemui oleh Mas Bambang, Menekuni bisnis kayu lawas dibutuhkan pengetahuan khusus tentang seluk beluk perkayuan. Kalau orang awam nekad terjun bisnis ini, besar kemungkinan bakal menemui kekecewaan. Pasalnya, belakangan ini banyak pengrajin barang- barang lawas yang mampu membuat replika joglo, risban, meja, gebyok mau pun gazebo. Di mana, dengan teknik tertentu, kayu yang dipergunakan membuat replika nampak seperti kayu tua. Saran dari Bapak Iwan saat akan membeli barang, usahakan melalui pedagang atau kolektor yang sudah pasti kredibilitasnya. Jangan asal memborong, semisal mau lebih aman, hendaknya mengajak orang yang tahu persis seluk beluk kayu karena barang seperti ini memang tak ada patokan harganya. 

Yang menarik dari kerajinan ini adalah ukiran yang penuh pesona sehingga menjadi magnet tersendiri untuk menarik para kolektor untuk membelinya. Namun, di jaman yang serba pragmatis, kebanyakan warga pedesaan lebih suka menjual rumah joglo miliknya dan diganti dengan rumah batu. Padahal, rumah- rumah peninggalan nenek moyangnya tersebut sebenarnya mengandung nilai historis yang tidak dapat dinilai harganya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Enter Your Comment