Kisah Sukses Ilmuan Indonesia | Sukses Menyulap Susu Kambing Menjadi Serat Anti Peluru Melalui Synbio

Perkembangan Ilmu pengetahuan di era Tekhnology saat sekarang ini tumbuh semakin pesat. Banyak Ilmuan menemukan penemuan baru yang sangat bermanfaat bagi kebutuhan manusia. Jangankan seorang ilmuan, anak SD sekalipun sudah banyak menciptakan sesuatu yang baru. Seperti postingan saya terdahulu yang berjudul Siswa SD Sukses Ciptakan Robot dan Juara I Olimpiade Robocup Singapore Open 2015 ada juga Kisah Sukses Anak SD Temukan Aplikasi Tas Anti Maling Berbasis Android. Itu merupakan salah satu contoh bahwa perkembangan Ilmu Pengetahuan saat sekarang ini tidak bisa di bendung lagi.

Kembali ke pokok bahasan, benarkah susu kambing bisa disulape menjadi serat anti peluru?. Di sini kita akan mengetahui jawabannya. Ari Dwijayanti, alumnus ITB yang kini kuliah di Inggris mencoba mengembangkan ilmu biologi sintetik atau dikenal dengan Ilmu synbio. Ilmu synbio saat ini berkembang cukup pesat di negara-negara maju dan baru berkembang kurang dari dua dekade.

Mengenal Lebih Jauh Synthetic Biology (synbio)

Synthetic biology, atau Biologi Sintetis adalah ilmu dan proses produksi suatu bahan menggunakan gabungan prinsip biologi, rekayasa, dan teknik. Pada awalnya, ilmu ini diperkenalkan di Massachussets Institute of Technology (MIT). Kemudian, ilmu tersebut berkembang pesat di Eropa pada 2008 seiring berkembangnya biologi dan rekayasa. Kalau di Indonesia Ilmu ini masih tergolong baru.

Pengembangan Susu Kambing Menjadi Serat Anti Peluru melalui Synbio

Ari adalah satu dari sebagian kecil sarjana Synbio di Indonesia. Ia lulus sebagai sarjana S1 Mikrobiologi ITB 2008 – 2012, kemudian di kampus yang sama meraih gelar Master Bioteknologi (2012 – 2013). Saat ini ia mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk studi doktoral Synbio di Imperial College London, Inggris. Ia mentargetkan bisa lulus 2019 mendatang. Perempuan berkerudung ini mendefinisikan synbio sebagai ilmu yang menggabungkan sains dan teknologi untuk memprogram sel hidup sesuai perintah yang diinginkan.

“Aplikasi synbio beragam, mulai di bidang kesehatan, energi, pangan, dan lainnya,” kata ketua tim peneliti Biosensor Aflatoxin, yakni penelitian tentang deteksi racun penyebab kanker pada kacang-kacangan seperti jagung dan padi. Dalam ajang International Genetically Engineering Machine (IGEM) 2013, Biosensor Aflatoxin mendapat medali perak. 

Biosensor Aflatoxin inilah yang memperkuat tentang penemuan susu kambing yang bisa menghasilkan serat anti peluru, tanaman yang bisa berpendar, bakteri yang menghasilkan obat, dan lainnya,” tambah perempuan kelahiran Pati, Jawa Tengah ini.

Menurutnya, salah satu negara yang sedang gencar mengembangkan synbio adalah Inggris. Pemerintah Inggris memasukkan synbio sebagai program riset utama. Sehingga banyak dana riset dan fasilitas synbio yang didirikan.

Harapan Ari Dwijayanti

Semoga Synbio bisa lebih cepat dikembangkan di Indonesia. Dengan memiliki research center di bidang Synbio maka peneliti-peneliti handal dalam negeri mampu belajar dan bereksperimen. Untuk saat ini ITB sudah mulai mengembangkan ilmu ini. Namun, masih butuh waktu lama untuk bisa berkembang di Indonesia. Menurut Ari seperti yang dilansir dari bandung.merdeka.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Enter Your Comment